Ngalaksa

Ngalaksa adalah upacara adat Sunda yang diadakan setiap tahun di Rancakalong, Kabupaten Sumedang, sebagai ungkapan syukur atas panen padi serta penghormatan kepada dewi kesuburan, Nyi Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Sri). Dalam ritual yang berlangsung tujuh hari tujuh malam ini, warga membuat makanan laksa dari tepung beras yang dibungkus daun congkok, diiringi musik tradisional Tarawangsa, di mana jumlah laksa yang berhasil dibuat dipercaya menjadi pertanda keberhasilan panen di tahun berikutnya. Asal-usulnya bermula pada tahun 1620-an, pada masa pemerintahan Suryadiwangsa, ketika Sumedang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram dan mengalami paceklik karena hasil buminya harus disetorkan ke Cirebon sebagai perbekalan perang melawan VOC. Untuk menyelamatkan warga, utusan yang dipimpin Jatikusumah gagal membawa benih padi, namun akhirnya dua seniman Tarawangsa berhasil menyelundupkan benih padi dari Cirebon dengan menyamar sebagai pengamen. Setelah panen kembali melimpah, kebiasaan mengirimkan padi yang diolah menjadi laksa ke Cirebon pun dijalankan secara rutin hingga akhirnya menjadi tradisi turun-temurun yang lestari sampai sekarang.